Tari Sambut Sepintu Sedulang, cerminan adat istiadat masyarakat kabupaten Bangka propinsi kepulauan bangka belitung
Anda tentu pernah mendengar sekaligus juga menyaksikan tari dan music yang di gelar oleh masyarakat di suatu daerah pada saat menyambut datangnya tamu-tamu yang di anggap istimewa oleh masyarakat daerah setempat…..
Ya….kita mengenal Tari Gending Sriwijaya yang berasal dari sumatera selatan, Tari pasambahan dari sumatera barat dan tari persembahan dari propinsi Riau….
Kesemuanya itu
memiliki cara dan karakteristik tersendiri berdasarkan adat istiadat yang
berlaku di daerah masing-masing….Demikian halnya di Bangka Belitung khususnya di
daerah kabupaten Bangka…..
Di kabupaten
Bangka, Tari ini di kenal masyarakatnya dengan nama “Tari Sambut Sepintu
Sedulang”
Jika di lihat
dari idiom-idiom dan symbol-symbol yang tercermin, baik melalui gerakan Tarinya
maupun alunan dan syair musiknya, Tari Sambut Sepintu Sedulang tidak hanya telah
mewakili negeri sepintu sedulang namun juga dapat di jadikan sebagai ”cerminan adat istiadat masyarakat propinsi
kepulauan bangkabelitung”……………
Semula Tari Sambut Sepintu Sedulang di
ciptakan oleh seniman kelahiran pangkalpinang yang kini berusia 68 tahun yakni
Mukhtar Accros untuk kepentingan gelar acara pernikahan Putri Bupati Bangka
yang kala itu di jabat oleh djarap ,
namun seiring berjalannya waktu, inspirasi Muchtar Acros bersama seniman lainnya,diantaranya
Parlind Hutagalung, Murmahudi serta budayawan Samsi dan Almarhumah Ermanila
Hamid, kala itu pun berkembang……
Di dasari
oleh pemikiran bahwa masyarakat Bangka adalah masyarakat yang berbudaya, tari
sambut sepintu sedulang yang mencerminkan adat istiadat masyarakat Bangka yang ramah
tamah, sopan santun, gembira dan
bahagia, tulus dan terbuka terhadap siapa saja, khususnya tamu
istimewa yang datang berkunjung ke negeri sepintu sedulang semakin di
paten kan dan di perkenalkan kepada masyarakat luas termasuk sering kali di
tampilkan pada saat menyambut tetamu agung Mulai dari Presiden,menteri dan tamu
tamu yang di anggap istimewa lainnya baik yang berasal dari luar maupun dari
dalam daerah.
Tidak hanya
itu. Tari Sambut sepintu sedulang juga di perkenalkan hingga ke negeri
sriwijaya Palembang sumatera selatan, Tepat pada tanggal 10 juli tahun 1985, saat sumatera selatan masih
berkuasa atas pulau Timah ini, Tari Sambut sepintu sedulang di persiapkan untuk
mengikuti even seni ke tingkat propinsi sumatera selatan di Palembang yang di gelar
pada tanggal 20 juli 1985…..
Dan sejak
itulah , masyarakat baik di dalam maupun di luar daerah bangka semakin mengenal
tari sambut sepintu sedulang sebagai tari tradisi penyambutan tetamu agung yang
ada di kabupaten Bangka, bahkan saat ini hampir seluruh komunitas seni yang ada
khususnya di pulau Bangka mempelajari dan menampilkan tari sambut sepintu
sedulang ketika mereka di percayakan menyambut tamu agung yang datang melalui
upacara penyambutan di bandara depati amir pangkalpinang maupun di
tempat-tempat lainnya….
Tari sambut
sepintu sedulang, setiap ragam gerak dan syair musiknya masing-masing memiliki
arti tersendiri, seperti yang di jelaskan Sang Koreografer Muchtar Accros…..di
awali dari gerak silat yang di lakukan oleh 2 hingga 4 orang dengan
bersenjatakan tombak atau menggunakan parang merupakan bentuk kesigapan dan
tanggung jawab masyarakat Bangka yang akan selalu melindungi, memberi rasa aman
kepada siapa saja yang datang berkunjung ke pulau Bangka,sedangkan dalam gerak
tarinya yang gemulai namun tegas mencerminkan keanggunan dan keramah tamahan
gadis-gadis Bangka serta kegagahan pemuda-pemuda bangka sebagai wujud
penghormatan kepada para tamu yang datang berkunjung kepulau Bangka,tidak hanya
idiom-idiom tersebut, sejumlah symbol-simbol adat istiadat dan tradisi yang
berlaku di tengah masyarakat Bangka pun
di tampilkan dalam ragam gerak tari
sambut sepintu sedulang maupun property serta busana yang di tampilkan diantaranya
persembahan sekapur sirih yang di letakkan di kedalam tepak, tabur kembang
rampai dan beras kunyit yang di letakkan di dalam bokor yang di bawa oleh
penari wanita yang berkostum pengantin paksian berwarna merah dan ungu serta
tudung dulang dan paying lilin yang di bawa oleh penari pria yang berkostum telok
balanga, sebagai wujud penghormatan masyarakat
Bangka yang senantiasa akan selalu memberikan yang terbaik kepada para tamu
yang datang berkunjung……

Jika di
lihat dari gerak maupun ketika mendengar tabuhan gendang dan gesekan
biola serta accordion yang mendayu namun tegas, music pengiring tari
sambut sepintu
sedulang sangat dekat dengan nuansa music tradisional Bangka Belitung
yakni
music dambus,unsur pola gendang Bangka anak enduk yang saling bersahutan
satu
sama lainnya sangat terasa dalam komposisi percusinya yang terdiri dari
gendang
Bangka,gong,tamborin serta 2 buah kenong, hal itu juga selaras dengan
langkah
gerak tari sambut sepintu sedulang yang syarat dengan unsur langka gerak
tari
dincak dambus…..
Penata music
tari sambut sepintu sedulang seorang seniman sekaligus juga abdi Negara yang
kini duduk di pemerintahan sebagai kepala bagian administrasi sumber daya alam
skretariat daerah kabupaten bangka Murmahudi,spdi menjelaskan dalam proses
penataan baik tari maupun musiknya, unsur kedaerahan dan kearifan local yang
ada di pulau Bangka memang di kedepankan,selain sebagai bentuk penghargaan
kepada nenenk moyang terdahulu yang telah mewariskan mahakarya yang luar biasa,
hal ini sekaligus bertujuan untuk menyampaikan pesan, nilai-nilai edukasi melalui
karya seni tari tersebut, kepada siapa saja khususnya para generasi yang
melihat dan menyaksikan maupun yang mempelajari, menarikan serta mementaskan tarian
itu, adapun nilai edukasi yang di maksud yakni “tradisi budaya,adat istiadat
merupakan cerminan dari masyarakat pemiliknya, untuk itu sewajarnya ia di
tempatkan di posisi yang mulia bagi siapa saja yang merasa memilikinya”.

Demikian
pula yang di harapkan para pelaku sejarah terciptanya tari sambut sepintu
sedulang baik penata tari muchtar accros, pencipta lagu parlind hutagalung dan
penata music Murmahudi serta budayawan Samsi dan almarhumah Ermanila Hamid
bahwa nilai-nilai yang terkandung dalam mahakarya tari sambut sepintu sedulang
tidak lantas di tinggalkan maupun di ubah keasliannya oleh generasi massa kini,
melainkan senantiasa di pertahankan dan di jadi kan suatu kebanggaan sebagai
salah satu cerminan jati diri karakteristik negeri sepintu sedulang dan negeri
serumpun sebalai pada umumnya….
Tidak ada komentar:
Posting Komentar